Showing posts with label Banjarmasin. Show all posts
Showing posts with label Banjarmasin. Show all posts

Saturday, January 21, 2012

Masjid Jami Banjarmasin


Masjid Jami’ Banjarmasin atau dikenal juga sebagai Masjid Jami’ Sungai Jingah adalah sebuah masjid bersejarah di kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Mesjid berarsitektur joglo yang dibuat dengan bahan dasar kayu besi (ulin) ini dibangun di tahun 1777. Lokasi awal pembangunan masjid ialah di tepi Sungai Martapura, setelah masjid ini dipindahkan sekarang berada di Jalan Masjid kelurahan Antasan Kecil Timur,Kota Banjarmasin pada tahun 1934.

Konon ceritanya di masa itu masyarakat Banjar kesulitan beribadah karena tidak ada mesjid yang cukup besar untuk menampung orang banyak. Pemerintah kolonial Belanda yang kehadirannya tidak disukai oleh masyarakat Banjar berusaha menggunakan kesempatan itu untuk mengambil hati orang Banjar. Mereka berniat menyumbangkan uang hasil pajak untuk pembangunan masjid. Kebetulan saat itu pendapatan pajak pemerintah Belanda dari hasil memeras rakyat Kalimantan sedang berlimpah, terutama dari hasil hutan seperti karet dan damar. Namun masyarakat Banjar menolak mentah-mentah tawaran itu. Bagi orang Banjar yang beragama Islam adalah haram hukumnya menerima pemberian dari penjajah Belanda, apalagi untuk pembangunan masjid. Untuk mengatasi permasalahan tersebut mereka secara swadaya dan bergotong- membangun tempat ibadah tersebut. Tua-muda, laki-laki dan perempuan secara bahu-membahu mengumpulkan dana. Ada yang menyumbangkan tanah, perhiasan emas atau hasil pertanian, sehingga tidak lama kemudian di atas tanah seluas 2 hektar berdirilah sebuah mesjid yang indah dan megah sebagai tempat beribadah dan kegiatan sosial lainnya hingga sekarang

Semoga bermanfaat untuk kita semua. Terimakasih.
Sumber: Portal Banjarmasin

Read more...

Kain Sasirangan, kerajinan khas daerah Kalimantan Selatan

Kain Sasirangan yang merupakan kerajinan khas daerah Kalimantan Selatan (Kalsel) menurut para tetua masyarakat setempat, dulunya digunakan sebagai ikat kepala (laung), juga sebagai sabuk dipakai kaum lelaki serta sebagai selendang, kerudung, atau udat (kemben) oleh kaum wanita. Kain ini juga sebagai pakaian adat dipakai pada upacara-upacara adat, bahkan digunakan pada pengobatan orang sakit. Tapi saat ini, kain sasirangan peruntukannya tidak lagi untuk spiritual sudah menjadi pakaian untuk kegiatan sehari-hari, dan merupakan ciri khas sandang dari Kalsel. Di Kalsel, kain sasirangan merupakan salah satu kerajinan khas daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Kata “Sasirangan” berasal dari kata sirang (bahasa setempat) yang berarti diikat atau dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya atau dalam istilah bahasa jahit menjahit dismoke/dijelujur. Kalau di Jawa disebut jumputan. Kain sasirangan dibuat dengan memakai bahan kain mori, polyester yang dijahit dengan cara tertentu. Kemudian disapu dengan bermacam-macam warna yang diinginkan, sehingga menghasilkan suatu bahan busana yang bercorak aneka warna dengan garis-garis atau motif yang menawan.

Proses Pembuatan Kain Sasirangan
Pertama menyirang kain, Kain dipotong secukupnya disesuaikan untuk keperluan pakaian wanita atau pria. Kemudian kain digambar dengan motif-motif kain adat, lantas disirang atau dijahit dengan tangan jarang-jarang/renggang mengikuti motif. Kain yang telah dijahit, ditarik benang jahitannya dengan tujuan untuk mengencangkan jahitannya, sehingga kain mengerut dengan rapat dan kain sudah siap untuk masuk proses selanjutnya.

Kedua penyiapan zat warna, Zat warna yang digunakan adalah zat warna untuk membatik. Semua zat warna yang untuk membatik dapat digunakan untuk pewarnaan kain sasirangan. Tapi zat warna yang sering digunakan saat ini adalah zat warna naphtol dengan garamnya. Bahan lainnya sebagai pembantu adalah soda api (NaOH), TRO/Sepritus, air panas yang mendidih. Mula-mula zat warna diambil secukupnya, kemudian diencerkan/dibuat pasta dengan menambahkan TRO/Spirtus, lantas diaduk sampai semua larut/melarut. Setelah zat melarut semua, kemudian ditambahkan beberapa tetes soda api dan terakhir ditambahkan dengan air panas dan air dingin sesuai dengan keperluan. Larutan harus bening/jernih. Untuk melarutkan zat warna naphtol sudah dianggap selesai dan sudah dapat dipergunakan untuk mewarnai kain sasirangan.

Untuk membuat warna yang dikehendaki, maka zat warna naphtol harus ditimbulkan/dipeksasi dengan garamnya. Untuk melarutkan garamnya, diambil sesuai dengan keperluan kemudian ditambahkan air panas sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk kuat-kuat sehingga zat melarut semua dan didapatkan larutan yang bening. Banyaknya larutan disesuaikan dengan keperluan. Kedua larutan yaitu naphtol dan garam sudah dapat dipergunakan untuk mewarnai kain sasirangan, yaitu dengan cara pertama-tama mengoleskan/menyapukan zat warna naphtol pada kain yang telah disirang yang kemudian disapukan lagi/dioleskan larutan garamnya sehingga akan timbul warna pada kain sasirangan yang sudah diolesi sesuai dengan warna yang diinginkan. Setelah seluruh kain diberi warna, kain dicuci bersih-bersih sampai air cucian tidak berwarna lagi.

Kain yang sudah bersih, kemudian dilepaskan jahitannya sehingga terlihat motif-motif bekas jahitan diantara warna-warna yang ada pada kain tersebut. Sampai disini proses pembuatan kain sasirangan telah selesai dan dijemur salanjutnya diseterika dan siap untuk dipasarkan.

Semoga bermanfaat.
Reply Posts: Portal Banjarmasin
Read more...

Batimung Masyarakat Banjar (Banjarmasin)

Di tengah serbuan berbagai macam jenis kosmetik modern dan berbagai cara perawatan kesehatan dan kecantikan di salon-salon, ada satu adat budaya di Kalimantan Selatan yang sampai sekarang masih dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Batimung, membuang keringat dari badan dengan cara diasapi serta ditambahkan bunga-bungaan dan ramuan alami untuk memberi keharuman kepada badan orang yang ditimung tadi. Batimung salah satu syarat bagi calon pengantin untuk menghadapi pesta perkawinannya nanti. Tujuannya agar mempelai laki-laki dan perempuan saat acara berlangsung tidak mengeluarkan bau keringat biasa tetapi berganti menjadi bau harum yang menambah pesona. Proses batimung biasanya dilakukan pada malam hari, dilaksanakan oleh para wanita dari keluarga orang yang Batimung.

Untuk keperluan batimung biasanya terdiri dari:
  1. Bedak atau wadak, yang sering disebut mangir wangi. Terbuat dari beras kencur ditambah dengan bahan alami lainnya yang mengandung wangi-wangian.
  2. Bahan-bahan tambahan tersebut direbus sehingga uap itulah yang akan memberikan bau harum. Bahan tambahan antara lain, daun pudak/pandan wangi, tamu giring, limau purut, kulit bawang merah, babakan pula santan, kayu manis, menyan, daun sop, pucuk ganti, mang soe sebangsa akar, bunga akar. Semua bahan tersebut dibuat dalam ramuan kecil-kecil kemudian dimasukkan kedalam kuantan lalu direbus sampai mendidih, tutupnya dijaga agar jangan terbuka sehingga asapnya keluar sebelum diperlukan.

Proses batimung:
  1. Sebelum memasuki timungan, badan orang yang akan ditimung dibedaki dengan wadak sampai bersih dan harum sehingga segala kotoran yang melekat di tubuhnya hilang. Membedaki dilakukan oleh para wanita yang ditugaskan. Biasanya sambil membedaki ini calon pengantin akan digoda dengan senda gurau para pembedak.
  2. Setelah selesai diwadak, calon pengantin disuruh duduk di atas sebuah bangku yang rendah disebut dadampar, kemudian segala pakaian yang melekat disuruh tanggalkan diganti dengan selimut tebal beberapa lapis sampai ke atas kepala kecuali muka dan hidung.
  3.  Selesai diselimuti, barulah ramuan mendidih tadi diletakkan dibawah dadampar dan tutupnya dibuka sehingga uap harum bisa keluar dan membasahi tubuh orang yang batimung
Biasanya bagi calon pengantin laki-laki, acara batimung cukup tiga hari, tetapi bagi calon pengantin wanita bisa sampai satu minggu bahkan ada yang hampir satu bulan. Setelah acara batimung selesai akan terlihat perbedaan nyata yang tampak pada kulit orang batimung serta keringatnya mengeluarkan bau yang harum.

Semoga bermanfaat.
Reply Posts: Portal Banjarmasin

Read more...

Sunday, January 8, 2012

Banjarmasin Bakal Miliki Sebuah Jembatan Besar Lagi

Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan bakal memiliki sebuah jembatan besar lagi setelah adanya keinginan pemerintah setempat mewujudkan jembatan yang menyeberangi Sungai Martapura.

Kepala Dinas Bina Marga Banjarmasin, Ir Fajar Desira kepada pers di balaikota Banjarmasin, Kamis mengakui adanya keinginan Pemkot membangun sebuah jembatan besar lagi.

Jembatan yang rencananya di Bangun itu menyebarangi Sungai Martapura antara Desa Sungai Jingah ke Desa Sungai Bilu, dengan panjang 125 meter dan lebar sembilan meter.

Bila nanti jembatan tersebut terwujud maka di dalam Kota Banjarmasin terdapat delapan besar menyerangi Sungai Martapura untuk memecah kemacetan lalu-lintas yang belakangan kian dirasakan masyarakat.

Jembatan besar yang dibangun sejak Belanda yaitu Jembatan Pangeran Antasari, Jembatan Pasar Lama, dan Jembatan Dewi, setelah itu baru dibangun lagi Jembatan Lingkar Basirih, Jembatan RK Ilir, Jembatan Merdeka, serta Jembatan Banua Anyar.

Pemkot Banjarmasin sendiri memastikan melakukan desain Jembatan Sungai Jingah-Sungai Bilu pada APBD tahun 2012 nanti dengan nilai Rp600 juta.

Bila keinginan Pemkot tersebut didukung sepenuhnya oleh pihak anggota DPRD setempat, maka selanjutnya pembangunannya akan dianggarkan melalui APBD setempat, tambah Fajar Desira.

Menurut rencana, desain yang akan dibuat jembatan tersebut beda dibandingkan jembatan sebelumnya, nantinya dibuat sedemikian rupa yang bernilai seni dan memiliki ciri khas setempat, mungkin bentuknya melengkung atau seperti jembatan layang.

"Kita ingin melihat bentuk jembatan nanti berarsitektur khas budaya lokal, serta memiliki nilai seni yang mungkin mampu menjadi ikon kota," katanya.

Ketika ditanya mengenai lokasi pastinya, ia masih belum bisa menentukan tergantung ketersediaan lahan, ada yang menghendaki di lokasi sekitar kelurahan Kampung Melayu, dan sekitar Simpang Sungai Bilu.

Kota Banjarmasin berjuluk kota seribu sungai ini terdapat sekitar 300 jembatan, tetapi tujuh jembatan besar dan selebihnya jembatan yang menyerangi sungai-sungai kecil yang merupakan anak Sungai Martapura dan Sungai Barito.

Jembatan Sungai Barito yang panjangnya satu kilometer lebih berada di pinggiran kota setempat, sudah berada di wilayah Kabupaten Barito Kuala.(H005/E001)

Sumber: antaranews.com
Kamis, 5 Januari 2012 11:12 WIB | 1120 Views Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © 2012
Read more...