Showing posts with label Suara Islam. Show all posts
Showing posts with label Suara Islam. Show all posts

Tuesday, February 7, 2012

Cara Muslim Fiji Peringati Maulid Nabi SAW


Kalangan Muslim di Republik Kepulauan Fiji berkumpul dan merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad yang mengajarkan manusia untuk tetap berada di jalan yang benar, Senin (6/2/12).

Wakil Presiden Liga Muslim Fiji Abdul Qayyum Khan mengatakan pada hari libur tersebut diadakan pertemuan khusus yang mengundang pembicara dari Luchnow, India, untuk berceramah dengan topik "meneguhkan ajaran Nabi Muhammad" di Lautoka Divisi Barat, Fiji.

Perdana Menteri Fiji Komodor Voreqe Bainimarama dalam suratnya kepada komunitas Muslim yang mempunyai anggota 6 persen dari total 800 ribu jiwa penduduk Fiji, mengatakan Nabi Muhammad hidup dalam ketaatan kepada Tuhan, dan mengajarkan prinsip-prinsip yang mendekatkan "kita semua sebagai manusia, kasih sayang, kesatuan, toleransi dan rasa hormat".

Populasi Muslim di dunia mencapai 2,1 miliar dari 7 miliar penduduk dunia. Keyakinan akan Islam meningkat di negara kepuauan seperti Fiji, tempat masjid atau tempat beribadah umat Muslim ditemukan di seluruh wilayah.

Voreqe mengatakan ajaran Nabi Muhammad adalah pondasi Islam, dan meliputi segala bidang seperti budaya, kehidupan bermasyarakat dan agama. Hal itu sama dengan nilai-nilai penting yang dipegang penduduk Fiji.

"Mengingat hari lahirnya Nabi Muhammad adalah waktu bagi semua penduduk Fiji, untuk merenungi semua kebijaksanaan dan pedoman bahwa keimanan adalah anugerah yang diberikan kepada setiap orang, tanggung jawab antara sesama manusia dan kepada Tuhan," tambah Voreqe.

Voreqe juga mengatakan rasa hormat universal satu sama lain, terlepas dari ras, agama dan budaya adalah berkah bersama. Dia mendesak penduduk Fiji mempertahankan kepercayaan, kesabaran dan kasih sayang untuk kemajuan bangsa pada masa yang akan datang.

Semoga bermanfaat. Terimakasih.
Reply Post: Antara
>
Read more...

Friday, February 3, 2012

Kontroversi: Said Aqil Siradj Sebagai Ketua Umum PBNU

"Karena Lidah Badan Binasa", apakah peribahasa ini berlaku untuk Bp Said Aqil Siradj sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Indonesia ini. Entahlah...!

Saya melihat, membaca, menganalisa dan mengambil kesimpulan sendiri untuk diri saya, mengenai apa yang saya baca dari informasi situs online www.voa-islam.com, sepertinya pribahasa tersebut mengena sekali untuk Bp.Said Aqil Siradj.

Karena ilmu saya dangkal dalam hal penelaahan suatu aliran (sekte) yang ada di Indonesia. Dan saya sepertinya terbantu sekali oleh situs online www.voa-islam.com ini dalam memahami aliran (sekte) yang menyimpang dari Syariat Islam yang sesungguhnya, walaupun saya online hanya menggunakan Handphone (Nokia C3). Saya sangat terbantu sekali.

Selain situs online www.voa-islam.com kebangaan saya, ada satu situs online yang lain, yang juga menjadi kebangaan saya yaitu www.arramah.com. Kedua situs ini menurut saya adalah situs Independent yang murni menyuarakan Suara Islam yang sesuai menjalankan Syariat Islam, dalam hal:
  • Menyoroti Kinerja Pemerintahan yang berkuasa yang Dzalim (Dalam dan Luar Negeri)
  • Menyuarakan protes keras mengenai kebijakan (peraturan) Pemerintah yang oleh Syariat Islam adalah menyimpang dan akan menyengsarakan untuk rakyat kedepannya
  • Dan lain-lain sebagainya.

Maksud dari semua itu, bagi saya menjadikan sebagai pembelajaran dalam hal mengambil tindakan hidup sehari-hari dalam bergaul dan bermasyarakat, agar diri saya bisa intropeksi diri kedepannya.

Dibawah ini adalah links informasi dari www.voa-islam.com mengenai Bp.Said Aqil Siradj dalam menanggapi Aliran Syi'ah di Indonesia.
(...sungguh ironis bagi saya...)

  1. Habib Zeinsaid: Aqil Lebih Jelek Dan Lebih Berbahaya Daripada Syi'ah
  2. Ulama Jatim Juluki Said Aqil "Pengecut-Pendusta-Pembela Syi'ah
  3. Bila Syi'ah Tak Sesat Sai Aqil Siradj Khianati Khittah NU

Semoga bermanfaat.Terimakasih.
Happy Blogging Mobile
Reply Post: VOA-Islam (mobile)

Read more...

Saturday, January 21, 2012

Mengapa Lantai Masjidil Haram Tidak Terasa Panas?

MELAKUKAN thawaf (memutari Kakbah) di malam dan siang hari memang berbeda. Jika malam hari, cuaca cukup sejuk. Karenanya, orang sekitar Mekkah jika ingin melakukan umrah biasanya dilakukan pada malam hari.

Begitu juga dengan warga di sekitar Kota Mekkah seperti Jeddah. Warga di kota yang berlokasi sekira satu jam perjalanan dari Mekkah ini, biasanya berangkat pada sore hari agar bisa salat Magrib berjamaah sekaligus melakukan umrah.

“Kebiasaan orang di sini begitu. Agak aneh kalau berangkat ke Mekkah untuk umrah pada pagi hari,” ucap guide MCH Jeddah, Sahe, yang sudah tinggal 23 tahun di Arab Saudi.

Memang suhu di Mekkah belakangan ini cukup panas berkisar antara 40-42 derajat celsius. Bandingkan dengan Jakarta yang puncak panasnya berada di kisaran 37 derajat celcius. Puncak panas biasanya terjadi pada pukul 15.00 waktu setempat. Setelah itu, terus menurun hingga malam hari.

Kru okezone sudah merasakan thawaf di malam dan siang hari. Memang kondisinya sangat jauh berbeda. Jika malam hari, melakukan thawaf tidak terlalu menguras tenaga.

Berbeda halnya jika thawaf dilakukan siang hari. Keringat sudah pasti bercucuran karena panas matahari yang menyengat.

Meski demikian yang unik, meski mengelilingi Kakbah tanpa alas kaki, namun telapak tidak terasa panas sama sekali. Padahal tempat thawaf merupakan ruang terbuka, panas matahari langsung menerpa lantai marmer.

Ini berberda dengan lantai di jalan hendak keluar dari pintu Marwah. Saat berjalan, telapak kaki berasa sangat panas bak berjalan di atas bara api. Kami berjinjit dan berlari kecil untuk menghindari panas tersebut.

Lalu kenapa di lantai tempat thawaf dan di luar masjidil haram berbeda 180 derajat. Ini menimbulkan rasa penasaran. Salah satu ummal (cleaning service) di Masjidil Haram, Udin (40), mengatakan di bawah Kakbah dan tempat thawaf memang dipasang air conditioner agar telapak kaki peziarah tidak melepuh, kepanasan.

Setelah membaca buku Sami bin Abdullah al Maghlouthm ‘Atlas Haji dan Umrah’ dan sumber lainnya, barulah terungkap. Awalnya, tempat thawaf tidak berubin marmer seperti saat ini. Dulu hanyalah hamparan pasir lapang. Barulah pada masa Abdullah Ibnu Zubair. Ubinnya saat itu bergaris lima meter dari Kakbah, hingga 1375 Hijriyah atau 1954 M di masa Raja Abdul Azis sumbangan marmer terus berdatangan. Kini lantai marmer untuk thawaf terbuat dari marmer kualitas terbaik yang mampu menahan teriknya panas matahari.

Awalnya lokasi thawaf tidak seluas sekarang, terdapat bangunan di atas Maqam Ibrahim dan juga gerbang pintu masuk sumur Zamzam.

Pada masa Raja Faisal renovasi dilakukan melanjutkan periode Raja Saud, di antaranya adalah pembongkaran bangunan di atas Maqam Ibrahim, sehingga lokasi untuk thawaf lebih lebar dari sebelumnya.


Pada masa Raja Khalid, perluasan halaman untuk thawaf kembali diperlebar. Gerbang menuju sumur zamzam dipindahkan ke dekat serambi masjid sebelah timur. Karena itulah area thawaf menjadi lebih luas dari 3.298 meter menjadi 8.500 meter, seluruh bagian Masjidil Haram lama menjadi tempat thawaf.

Kemudian, renovasi dilanjutkan pada masa Raja Fahd. Dibangunlah ruang bawah tanah. Tak hanya itu, lantai bawah tanah juga dilengkapi dengan pengatur udara AC. Pusat mesinnya dibangun di kawasan Ajyad. Air dingin dialirkan di lantai bawah tanah berasal dari tempat yang sama.

Jadi wajar saja, jika lantai yang dipakai untuk tempat thawaf tidak berasa panas sekalipun suhu udara sangat panas. Ini adalah bentuk pelayanan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi terhadap jamaah yang setiap tahun harus meninggalkan sanak keluarga di negara mereka demi melaksanakan Rukun Islam ke-5.

Sumber: http://haji.okezone.com/read/2011/10/12/395/514045/mengapa-lantai-masjidil-haram-tidak-terasa-panas
Read more...

Friday, January 6, 2012

Voice of Al Islam Website Islami Indonesia

Voice Of Al Islam, VOA-Islam Fitz Freedom Blog




VOA-Islam™ atau Voice of Al Islami didirikan atas dasar keperihatinan atas realita Umat Islam di Asia Tenggara (pada khususnya) yang semakin termarjinalkan oleh Kapitalis dan Gerakan Zionis melalui Labelisasi sebagai Ekstrimis, Konservatif dan Fundamentalis terhadap Perjuangan dan Dakwah Islam yang Haq, sesuai dengan pemahaman Generasi Terbaik, "Salafus Sholeh" (Rasulullah; Generasi Tabiin dan Tabiut Tabiin).

Dasar Pemikiran VOA-Islam™ atau Voice of Al Islam adalah: An Nahl: 125. Surat 49:6, Ash Shaff 10-12.

VISI VOA-Islam™ atau Voice of Al Islam adalah :
  • Menjadi Media terpercaya yang mengedepankan kebenaran dan keadilan secara propesional.
  • Terwujudnya masyarakat Muslim yang sadar akan kemulian dirinya dan peran serta tanggungjawab yang harus diembannya untuk terwujudnya sebuah peradaban yang bermartabat.


MISI VOA-Islam™ atau Voice of Al Islam adalah :
  • Mendakwahkan Al Haq dimana saja, kapan saja melalui media apa saja.
  • Meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) dan Kapabilitas tekhnologi informasi dan komunikasi Umat Islam.
  • Membangun Dakwah Online dan sebagai bentuk Advokasi terhadap Umat Islam Asia Tenggara.
  • Menjaga keutuhan Dakwah Sunnah, dan Perjuangan Umat Islam.
  • Menjadi Media Islam Online rujukan di Indonesia dan Asia Tenggara.Insya Allah.
  • Menyampaikan informasi berimbang tentang eksistensi dan permasalahan Umat Islam di Asia Tenggara khususnya dan Dunia pada umumnya.


VOA-Islam™ atau Voice of Al Islam didirikan pada bulan April 2009 dan resmi beroperasi pada tanggal 01 Juni 2009.
Voice Of Al Islam, VOA-Islam Fitz Freedom Blog
Dibawah ini adalah sebagian Link (mobile) dari Voice of Al Islam atau VOA-Islam™ yang saya lampirkan pada Artikel/Blog ini, semoga kita sebagai Umat Islam di Indonesia dapat mengetahui berita tentang Islam diseluruh dunia dan berita yang lainnya tentang Islam. Silakan anda klik Menu List Mobile dibawah ini:
» Islamia
» Islam of The Word
» Lintas Berita Islam
» Muslimah
» Interview dan Profile
» Pilihan Lainnya (Versi Mobile)....

Semoga bermanfaat untuk kita semua. Terimakasih. Wassallam.

Sumber: VOA-Islam™ (Versi Mobile).
Notes: Posted Via Handphone (Hp)
Read more...

Ar-Rahmah Website Islami

Arrahmah, Situs Islam untuk para mujahid
samudra


Website atau situs arrahmah.com adalah Jaringan Media Islam yang bertujuan memberikan Informasi berimbang tentang Islam dan Dunia Islam ditengah arus informasi modern dan globalisasi.

arrahmah.com sebagai Media Jurnalisme dan juga sebagai wadah perjuangan Intelektual dan Spiritual untuk membangun kehidupan dunia yang lebih baik.

arrahmah.com adalah Media Islam dalam aktivitasnya mengembangkan strategi Jurnalisme yang "Investigatif", "Argumentatif" dan "Persuasif". Maksudnya dari ke tiga kata tersebut adalah:
  • Investigatif:
    Berarti melakukan Investigasi berimbang dengan konsep "tabayyun".
  • Argumentatiff:
    Berarti mengedepankan Argumentasi yang kuat dan Ilmiah (bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah) tanpa meninggalkan realitas kekinian.
  • Persuasif:
    Berarti mengajak sekaligus membuka diri terhadap seluruh komponen ummat kepada kebaikan.

Visi

arrahmah.com sebagai Media adalah menebarkan Islam sebagai "Rahmatan Lil Alamien", Mencerdaskan dan Mencerdaskan Ummat, serta meneladani generasi terbaik ummat (salatus sholeh).

Misi

arrahmah.com sebagai Media adalah Dakwah menuju tatanan dunia yang lebih baik dan membangun jaringan kerjasama secara luas demi tegaknya "izzul islami wal muslimin"

Dibawah ini adalah sebagian links dari Ar-Rahmah™ yang saya persembahkan untuk Berbagi Informasi dalam kebersamaan untuk memajukan tegaknya agama kita, Agama Islam.

KAJIAN ISLAM :

» Tauhid
» Syariah
» Jihad
» Sirah Salaf
» Politik Islam
» Tausyiah
» Fatwa Tanya Jawab

MUSLIMAH :

» Artikel Muslimah
» Tarbiyatul Awlad
» Mujahidah

RUBRIK :

» Do'a dan Dzikir
» Hakekat Syiah
» Kisah Teladan
» Ust.Abu M.Jibriel
» Muhammad Jibriel
» Ust.Irfan Awwas
» Review
» Artikel


...... Untuk yang lainnya silakan anda kunjungi di » arrahmah.com™ Website Islami .......


Semoga bermanfaat untuk kita semua sebagai Ummat Islam. Terimakasih.
Sumber: arrahmah.com™
Notes: Posted via Handphone (Hp)
Read more...

Sunday, January 1, 2012

Alasan Kenapa Orang Islam Haram Merayakan Tahun Baru Masehi

Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Tahun baru masehi pada zaman kita ini dirayakan dengan besar-besaran. Suara terompet dan tontonan kembang api hampir menghiasi seluruh penjuru dunia di barat dan di timurnya. Tidak berbeda negara yang mayoritas penduduknya kafir ataupun muslim. Padahal, perayaan tersebut identik dengan hari besar orang Nasrani.

Banyak keyakinan batil yang ada pada malam tahun baru. Di antaranya, siapa yang meneguk segelas anggur terakhir dari botol setelah tengah malam akan mendapatkan keberuntungan. Jika dia seorang bujangan, maka dia akan menjadi orang pertama menemukan jodoh dari antara rekan-rekannya yang ada di malam itu. Keyakinan lainnya, di antara bentuk kemalangan adalah masuk rumah pada malam tahun tanpa membawa hadiah, mencuci baju dan peralatan makan pada hari itu adalah tanda kesialan, membiarkan api menyala sepanjang malam tahun baru akan mendatangkan banyak keberuntungan, dan bentuk-bentuk khurafat lainnya.

Sesungguhnya keyakinan-keyakinan batil tersebut diadopsi dari keyakinan batil Nasrani. Yang hakikatnya, mengadopsi dan meniru budaya batil ini adalah sebuah keharaman. Karena siapa yang bertasyabbuh (menyerupai) kepada satu kaum, maka dia bagian dari mereka.

Haramnya Bertasyabuh Kepada Orang Kafir

Secara ringkas, bertasyabbuh di sini maknanya adalah usaha seseorang untuk menyerupai orang lain yang ingin dia sama dengannya, baik dalam penampilan, karakteristik dan atribut.

Di antara perkara fundamental dari agama kita adalah memberikan kecintaan kepada Islam dan pemeluknya, berbara’ (membenci dan berlepas diri) dari kekufuran dan para ahlinya. Dan tanda bara’ yang paling nampak dengan berbedanya seorang muslim dari orang kafir, bangga dengan agamanya dan merasa terhormat dengan Islamnya, seberapapun hebat kekuatan orang kafir dan kemajuan peradaban mereka.

. . . tanda bara’ yang paling nampak dengan berbedanya seorang muslim dari orang kafir, bangga dengan agamanya dan merasa terhormat dengan Islamnya, seberapapun hebat kekuatan orang kafir dan kemajuan peradaban mereka.

Walaupun kondisi orang muslim lemah, terbelakang, dan terpecah-pecah, sedangkan kekuatan kafir sangat hebat, tetap kaum muslimin tidak boleh menjadikannya sebagai dalih untuk membebek kepada kaum kuffar dan justifikasi untuk menyerupai mereka sebagaimana yang diserukan kaum munafikin dan para penjajah. Semua itu dikarenakan teks-teks syar’i yang mengharamkan tasyabbuh (menyerupai) dengan orang kafir dan larangan membebek kepada mereka tidak membedakan antara kondisi lemah dan kuat. Dan juga karena seorang muslim -dengan segenap kemampuannya- harus merasa mulia dengan agamanya dan terhormat dengan ke-Islamnya, sehingga pun saat mereka lemah dan terbelakang.

. . . kondisi orang muslim lemah, terbelakang, dan terpecah-pecah, tetap tidak boleh dijadikan sebagai dalih untuk membebek kepada kaum kuffar dan justifikasi untuk menyerupai mereka

Allah Subhanahu wa Ta'ala menyeru agar seorang muslim bangga dan terhormat dengan agamanya. Dia menggolongkannya sebagai perkataan terbaik dan kehormatan yang termulia dalam firmannya,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?".” (QS. Fushilat: 33)

Karena sangat urgennya masalah ini, yaitu agar seorang muslim berbeda dengan orang kafir, Allah memerintahkan kaum muslimin agar berdoa kepada-Nya minimal 17 kali dalam sehari semalam agar menjauhkan dari jalan hidup orang kafir dan menunjukinya kepada jalan lurus.

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7)

Banyak sekali nash Al-Qur’an dan Sunnah yang melarang bertasyabbuh dengan mereka dan menjelaskan bahwa mereka dalam kesesatan, maka siapa yang mengikuti mereka berarti mengikuti mereka dalam kesesatan.


ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاء الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)

وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ مَا جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ وَاقٍ

“Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” (QS. Al-Ra’du: 37)

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.” (QS. Ali Imran: 105)

Allah Ta’ala menyeru kaum mukminin agar khusyu’ ketika berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan membaca ayat-ayat-Nya, lalu Dia berfirman,

وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. al-Hadid: 16)

Tidak diragukan lagi, menyerupai mereka termasuk tanda paling jelas adanya kecintaan dan kasih sayang terhadap mereka. Ini bertentangan dengan sikap bara’ah (membenci dan berlepas diri) dari kekafiran dan pelakunya. Padahal Allah telah melarang kaum mukminin mencintai, loyal dan mendukung mereka. Sedangkan loyal dan mendukung mereka adalah sebab menjadi bagian dari golongan mereka, -semoga Allah menyelamatkan kita darinya-.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka." (QS. Al-Baqarah: 51)

Menyerupai orang kafir termasuk tanda paling jelas adanya kecintaan dan kasih sayang terhadap mereka. Ini bertentangan dengan sikap bara’ah (membenci dan berlepas diri) dari kekafiran dan pelakunya.

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka." (QS. Al-Mujadilah: 22)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Menyerupai (mereka) akan menunbuhkan kasih sayang, kecintaan, dan pembelaan dalam batin. Sebagaimana kecintaan dalam batin akan melahirkan musyabahah (ingin menyerupai) secara zahir.” Beliau berkata lagi dalam menjelaskan ayat di atas, “Maka Dia Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan, tidak akan didapati seorang mukmin mencintai orang kafir. Maka siapa yang mencintai orang kafir, dia bukan seorang mukmin. Dan penyerupaan zahir akan menumbuhkan kecintaan, karenanya diharamkan.”

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan dishahihkan Ibnu Hibban. Ibnu Taimiyah menyebutkannya dalam kitabnya Al-Iqtidha’ dan Fatawanya. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2831 dan 6149)

Syaikhul Islam berkata, “Hadits ini –yang paling ringan- menuntut pengharaman tasyabbuh (menyerupai) mereka, walaupun zahirnya mengafirkan orang yang menyerupai mereka seperti dalam firman Allah Ta’ala, “Siapa di antara kamu yang berloyal kepada mereka, maka sungguh ia bagian dari mereka.” (QS. Al-Maidah: 51).” (Al-Iqtidha’: 1/237)

Imam al-Shan’ani rahimahullaah berkata, “Apabila menyerupai orang kafir dalam berpakaian dan meyakini supaya seperti mereka dengan pakaian tersebut, ia telah kafir. Jika tidak meyakini (seperti itu), terjadi khilaf di antara fuqaha’ di dalamnya: Di antara mereka ada yang berkata menjadi kafir, sesuai dengan zahir hadits; Dan di antara yang lain mereka berkata, tidak kafir tapi harus diberi sanksi peringatan.” (Lihat: Subulus salam tentang syarah hadits tesebut).

Ibnu Taimiyah rahimahullaah menyebutkan, bahwa menyerupai orang-orang kafir merupakan salah satu sebab utama hilangnya (asingnya syi’ar) agama dan syariat Allah, dan munculnya kekafiran dan kemaksiatan. Sebagaimana melestarikan sunnah dan syariat para nabi menjadi pokok utama setiap kebaikan. (Lihat: Al-Iqtidha’: 1/314)

Bentuk Menyerupai Orang Kafir Dalam Hari Besar Mereka

Orang-orang kafir –dengan berbagai macam agama dan sektenya- memiliki hari raya yang beraneka ragam. Di antanya ada bersifat keagamaan yang menjadi pondasi agama mereka atau hari raya yang sengaja mereka ciptakan sendiri sebagai bagian dari agama mereka. Namun kebanyakannya berasal dari tradisi dan momentum yang sengaja dibuat hari besar untuk memperingatinya. Misalnya hari besar Nasional dan semisalnya. Lebih jauhnya ada beberapa contohnya sebagai berikut:

1. Hari untuk beribadah kepada tuhannya, seperti hari raya wafat Jesus Kristus, paskah, Misa, Natal, Tahun Baru Masehi, dan semisalnya. Seorang muslim terkategori menyerupai mereka dalam dua kondisi:

Pertama, Ikut serta dalam hari raya tersebut. Walaupun perayaan ini diselenggarakan kelompok minoritas non-muslim di negeri kaum muslimin, lalu sebagian kaum muslimin ikut serta di dalamnya sebagaimana yang pernah terjadi pada masa Ibnu Taimiyah dan Imam Dzahabi. Realitas semacam ini tersebar di negeri-negeri kaum muslimin. Lebih buruk lagi, ada sebagian kaum muslimin yang bepergian ke negeri kafir untuk menghadiri perayaan tersebut dan ikut berpartisipasi di dalamnya, baik karena menuruti hawa nafsunya atau untuk memenuhi undangan orang kafir sebagaimana yang dialami kaum muslimin yang hidup di negeri kafir, para pejabat pemerintahan, atau para bisnismen yang mendapat undangan rekan bisnisnya untuk menandatangi kontrak bisnis. Semua ini haram hukumnya dan ditakutkan menyebabkan kekufuran berdasarkan hadits, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” Pastinya, orang yang melakukan itu sadar bahwa itu merupakan bagian dari syi’ar agama mereka.

Kedua, Mengadopsi perayaan orang kafir ke negeri kaum muslimin. Orang yang menghadiri perayaan orang-orang kafir di negara mereka, lalu dengan kajahilan dan lemahnya iman, ia kagum dengan perayaan tersebut. kemudian dia membawa perayaan tersebut ke negara-negara muslim sebagaimana perayaan tahun baru Masehi. Kondisi ini lebih buruk dari yang pertama, karena dia tidak hanya ikut merayakan syi’ar agama orang kafir di Negara mereka, tapi malah membawanya ke negara-negara muslim.

. . .perayaan tahun baru Masehi adalah tradisi dan syi’ar agama orang kafir di Negara mereka, namun telah dibawa dan dilestarikan di negara-negara muslim...

2. Hari besar yang awanya menjadi syi’ar (simbol) orang-orang kafir, lalu dengan berjalannya waktu berubah menjadi tradisi dan perayaan global, seperti olimpiade oleh bangsa Yunani kuno yang saat ini menjadi ajang olah raga Internasional yang diikuti oleh semua Negara yang tedaftar dalam Komite Olimpiade Internasional (IOC). Ikut serta di dalamnya ada dua bentuk:

Pertama, menghadiri upacara pembukaan dan karnavalnya di negeri kafir seperti yang banyak di lakukan negara-negara muslim yang mengirimkan atlit-atlitnya untuk mengikuti berbagai ajang olah raga yang diadakan.

Kedua, membawa perayaan ini ke negera-negara muslim, seperti sebagian negeri muslim meminta menjadi tuan rumah dan penyelenggara Olimpiade ini.

Keduanya tidak boleh diadakan dan diselenggarakanaa di Negara-negara muslim dengan beberapa alasan:

a. Olimpiade ini pada awalnya merupakan hari besar kaum pagan Yunani kuno dan merupakan hari paling bersejaran bagi mereka, lalu diwarisi oleh kaum Romawi dan dilestarikan kaum Nasrani.

b. Ajang tersebut memiliki nama yang maknanya sangat dikenal oleh bangsa Yunani sebagai hari ritus mereka.

Keberadaannya yang menjadi ajang oleh raga tidak lantas merubah statusnya sebagai hari raya kaum pagan berdasarkan nama dan asal usulnya. Dasar haramnya perayaan tersebut adalah hadits Tsabit bin Dhahak radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Ada seseorang bernazar di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menyembelih unta di Bawwanah –yaitu nama suatu tempat-, ia lalu mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata: “Aku bernazar untuk menyembelih unta di Bawwanah.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Apakah di sana ada berhala jahiliyah yang disembah?” Mereka berkata: “Tidak.” Beliau bertanya lagi: “Apakah di sana dilakukan perayaan hari raya mereka?” Mereka berkata: “Tidak.” Beliau bersabda: “Tunaikanlah nazarmu, sesungguhnya tidak boleh menunaikan nazar yang berupa maksiat kepada Allah dan yang tidak mampu dilakukan oleh anak Adam.” (HR. Abu Dawud dan sanadnya sesuai syarat as-Shahihain)

Ditimbang dengan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di atas, bahwa asal dari olah raga priodik ini ada hari raya orang kafir. Dan ini diharamkan sebagaimana diharamkannya menyembelih unta untuk Allah di tempat yang dijadikan sebagai perayaan hari raya orang kafir. Dan perbedaan waktu dan tempat tidak mempengaruhi dari subtansi alasan diharamkannya penyembelihan tersebut.

Ibnu Taimiyah rahimahullaah menjelaskan, hadits ini mengandung makna bahwa tempat yang digunakan untuk perayaan hari besar mereka tidak boleh digunakan untuk menyembelih walaupun itu bentuknya nazar. Sebagaimana tempat tersebut sebagai tempat menaruh berhala mereka. Bahwa nazar semacam itu menunjukkan pengagungan kepada tempat tersebut yang diagungkan mereka untuk merayakan hari besarnya atau sebagai bentuk ikut serta (partisipasi) dalam perayaan hari besar tersebut. Atau juga untuk menghidupkan syi’ar mereka di sana. Apabila mengistimewakan satu tempat yang menjadi perayaan agama mereka saja dilarang, bagaimana dengan perayaan itu sendiri?! (Diringkas dari al-Iqtidha’: 1/344)

Sedangkan olimpiade ini bukan hanya waktu atau tempatnya, tapi hari raya itu sendiri berdasarkan asal penamaanya dan aktifitas yang ada di dalamnya, seperti menyalakan lampu olimpiade. Padahal itu sebagai lambang hari besar mereka. Dan ajang olahraga ini juga dilaksanakan pas waktu perayaan hari besar olimpiade, yang dilaksanakan empat tahun sekali.

3. Menyerupai Orang Kafir Dalam Merayakan Hari Besar Islam

Bentuk bertasyabbuh dengan orang kafir bisa terjadi juga dalam perayaan hari raya Islam, Idul Fitri dan Adha. Yaitu merayakan hari raya Islam dengan cara-cara yang bisa digunakan kaum kuffar dalam merayakan hari besar mereka.

Bahwa sesungguhnya, hari raya kaum muslimin dihiasi dengan syukur kepada Allah Ta’ala, mengagungkan, memuji dan mentaati-Nya. Bergembira menikmati karunia nikmat dari Allah Ta’ala tanpa menggunakannya untuk bermaksiat. Ini berbeda dengan hari raya kaum kuffar, dirayakan untuk mengagungkan syi’ar batil dan berhala-berhala mereka yang disembah selain Allah Ta’ala. Dalam perayaannya, mereka tenggelam dalam syahwat yang haram.

Namun sangat disayangkan banyak kaum muslimin yang di penjuru dunia yang menyerupai orang kafir dalam kemaksiatan itu. Mereka merubah nuansa Idul Fitri dan Idul Adha sebagai musim ketaatan dan syukur menjadi musim bermaksiat dan kufur nikmat, yaitu dengan mengisi malam-malamnya dengan musik-musik, nyanyir-nyanyi, mabuk-mabukan, pesta yang bercampur laki-laki dan perempuan dan bentuk pelanggaran-pelanggaran lainnya. Semua ini disebabkan mereka meniru cara orang kafir dalam merayakan hari besar mereka yang diisi dengan menuruti syahwat dan maksiat.

Semoga Allah membimbing kita kepada kondisi yang lebih diridhai-Nya, tidak menyimpang dari aturan Islam dan tidak bertasyabbuh dengan kaum kafir dalam acara-acara mereka. [PurWD/voa-islam.com]

Sumber: VOA-Islam/Badrul Tamam
Read more...